always love you, beach
24 Feb 2011 2 Comments
in diary
Jika ada yang bertanya apa tempat favorit saya? Pantai adalah jawabnya. Hmmm… bukan satu-satunya memang tapi saya tak pernah bosan rasanya memandang indahnya lautan lepas. Sangat luas, tak berbatas bahkan akal kita tak akan sampai untuk menghitung sebanyak apa anugerah yang telah Dia berikan kepada kita (baca:manusia). Ini baru lautan saja teman…belum anugerah yang lainnya.
Saat memandang laut, tampak seperti ada garis batas diujungnya tapi laut itu tak berbatas, benar-benar tak berbatas. Saya tak akan lupa bagaimana pengalaman saat saya menikmati laut dari atas kapal. Sangat menakjubkan… Pengalaman berada di dek nahkoda pun selalu teringat *walaupun mungkin dek nahkoda tak akan terjamah lagi. Sejauh mata memandang hanya laut yang terlihat. Kanan, kiri, depan, belakang…semuanya sama, hanya “laut”. Lautan yang akan terbelah dua akibat kapal yang melintas dan menghasilkan buih-buih ombak putih, tak jarang sesekali para lumba-lumba mengejar buih-buih tersebut dan bahkan berenang disamping lambung kapal seperti ingin menyapa seluruh penumpang di kapal. Sunrise atau sunset, hmmm…jangan ditanya lagi deh. Dijamin sangat sangat cantik… Subhanallah…
Trio Kwek-kwek, Pak Guru dan Muridnya…
08 Jan 2011 4 Comments
in diary
#11-01
Tak terasa seminggu sudah kita menapakkan jejak di 2011. Hari ini angka itu berhenti pada angka 8. Postingan pertama pada bulan pertama di tahun yang baru, tahun 2011. Jadi teringat dengan “pesta” kecil di awal tahun saat seorang teman mengingatkan akan janji saya untuk mempostingnya. Baiklah… Saya akan berbagi kegembiraan dengan teman-teman semua (seperti slogan iklan minuman yach…:D).
Pesta di awal tahun??? Pasti…pasti…pasti…..yang terpikir adalah pesta tahun baru yach??? No no no… Saya lebih memilih tidur dikasur pink saya ketimbang harus bermacet ria hanya demi sebuah kembang api.
Tahun baru malam, tanggal 1 Januari, tepatnya sabtu seminggu yang lalu…
Pesta trio kwek-kwek, pak guru dan muridnya pun dimulai… Mcflurry, sundae dan sekotak kentang besar menjadi pembuka. Seru dan menyenangkan… 90 menit berlalu begitu saja sore itu. Magrib pun tiba disertai gerimis yang membuat suasana semakin romantis…:D. Masing-masing dari kami pun pulang.
Lok cuma gitu doank??? Ya tentu saja tidak. Acara pun berlanjut di rumah (baca: rumah saya). Dua teman saya datang membawa sekarung jagung (bukan sekarung sih, tapi karena dibawa dengan karung mari kita sebut saja sekarung
). Mereka datang lengkap dengan senjata mentega dan arang untuk meramaikan malam ini dengan jagung bakar.
Ternyata eh ternyata… Belum di-ridhoi. Sudah susah paya berusaha menyalakan arangnya dan upppzzzz….. byyuuuurrr…. ujjaaaaannnnnn….. Gimana dunk??? Tenang tenang… Kami tak kehabisan akal. Akhirnya jagung bakar dibuat di atas kompor memakai teflon, hehehe… Walaupun rasanya tak sama dengan jagung bakar yang asli plus banyak yang belum benar-benar matang tapi secara keseluruhan okelah… #memotivasidirisendiri.
Jagung bakar pun selesai, tibalah giliran masak memasak untuk makan malam. Berhubung pak guru dan muridnya sedang asyik mengerjakan project mereka maka trio kwek-kwek lah yang menguasai dapur. Membuat lauk ala kadarnya dengan bumbu dan peralatan seadanya….:D. Tak lupa lemon tea sebagai pelepas dahaga. Hmmm…nyummy… nikmat… sangat malah, karena cacing-cacing di perut saya sudah protes dan sepertinya cacing-cacing di perut teman-teman saya pun juga protes, hahaha…
Acara makan malam pun selesai… Demi keadilan bersama giliran untuk mencuci piring kami serahkan pada ahlinya, hihihi… Malam yang menyenangkan…. Pasti
Siapa bilang malam tahun baru harus dirayain. Toh kapanpun kebersamaan dan “pesta-pesta” kecil semacam ini terasa lebih dari perayaan tahun baru.
The last… Semoga hanya karena-Nya lah tali silaturahmi ini bisa terjalin slalu. Dan lindungilah kami (umatMu) agar tetap berada dijalanMu Ya Rabb. Amin…
Berdua denganmu…
29 Dec 2010 4 Comments
in diary
Ahhh jam berapa sekarang??? Waktu sudah menunjukkan pukul 1 lebih 35 menit. Sudah sangat larut rupanya bahkan menjelang pagi. Sedikit merehatkan pikiran. Tangan saya terasa gatal setelah sekian lama tak menorehkan sebuah tulisan.
Gimana kabarmu my dear? I miss you so much… Berjuta pikiran saling berdesakan ingin keluar tapi waktu terasa sempit. Mungkin bukan waktu yang sempit tapi sayalah yang kurang bijak dalam memanfaatkannya.
Emmmm…kamu pasti merindukanku? Merindukan untuk berbagi. Tenang sayang… Saya pun sedang merasakannya…
Bulan-bulan penuh perjuangan. Bahkan jadwal tidur saya sekarang lebih mirip kalong dibanding manusia..T_T. Tapi saya yakin tak akan ada yang sia-sia dan hari ini satu langkah sudah saya lewati. Alhamdulillah… semoga Engkau memudahkan jalanku selanjutnya Ya Rabb…
Terimakasih juga Engkau mengirimkan orang-orang yang begitu sayang, begitu perhatian dan membantu bahkan sangat membantu hamba melewati semua proses ini…
Hanya doa yang bisa hamba panjatkan, karena hanya Engkau yang dapat membalas semua kebaikan mereka.
Hari semakin larut, mata ini sudah ingin terpejam sebentar, menghimpun tenaga untuk menyambut datangnya fajar…
Terimakasih lepiku sayang… engkau setia selalu menemaniku. Hanya kita berdua… Menelusuri heningnya malam
Nite all…^_^
Siapa?
01 Dec 2010 1 Comment
in sense
Siapa?
Sosok itu…
Terasa dekat tapi juga asing
Aku tak mengenalnya tapi ingin mengenalnya
Siapa?
Dia hanya menatapku
Tatapan teduh dan sayu
Ada kesedihan disana
Ada beban di mata itu
Siapa?
Dia hanya terdiam dan memandangiku
Terpaku tanpa sepatah kata
Berpaling dan pergi
Siapa?
Dulu aku hanya merasa mengenalnya
Sekarang aku benar-benar tak mengenalnya
…….
…
.
Kekurangan Itulah Kelebihanmu
02 Nov 2010 3 Comments
Seorang pembawa air memiliki 2 buah bejana besar yang setiap hari menggantung di ujung-ujung pikulan yang dibawanya di atas bahunya. Salah satu bejana itu memiliki retakan, sedangkan satunya lagi sempurna dan selalu berhasil membawa penuh air sepanjang perjalanan dari sungai ke rumah tuan si pembawa air.
Selama 2 tahun hal itu terus terjadi, si pembawa air setiap hari selalu hanya berhasil membawa satu setengah bejana air. Tentu saja bejana yang sempurna itu bangga dengan hasil yang dicapainya; sesuai dan sempurna sebagaimana selayaknya ia diciptakan. Tetapi bejana yang retak malu dengan ketidak-sempurnaan yang ada pada dirinya dan merasa sedih karena ia hanya mampu membawa setengah dari jumlah seharusnya ia diciptakan.
Setelah waktu 2 tahun berlalu dengan merasakan pahitnya kegagalan, suatu hari di tepi sungai si bejana retak berkata kepada si pembawa air. “Aku malu terhadap diriku dan aku ingin minta maaf kepadamu.”
“Kenapa? Apa yang membuatmu merasa malu?” tanya si pembawa air.
“Selama 2 tahun ini aku hanya mampu membawa setengah dari yang seharusnya bisa aku bawa. Semua ini karena retakan di tubuhku yang mengakibatkan air keluar lagi selama perjalananmu kembali dari sungai ke rumah tuanmu. Karena cacatku ini, kamu tidak mendapatkan nilai yang setimpal dengan tenaga yang kamu keluarkan.” Kata si bejana retak.
Si pembawa air merasa iba kepada si bejana tua yang retak itu dan dengan penuh kasih ia berkata, “Saat nanti kita berjalan kembali menuju ke rumah tuanku, aku mau kamu memperhatikan bunga-bunga indah di jalan setapak sepanjang perjalanan pulang.” Memang, ketika mereka mulai menaiki bukit, si bejana tua melihat sinar mentari menyinari bunga-bunga liar yang tumbuh indah di sisi jalan setapak. Hal itu membuat dia sedikit terhibur. Di akhir perjalanan, ia masih merasa bersalah karena setengah dari bawaannya telah mengucur keluar, ia kembali minta maaf. Si pembawa air berkata kepada bejana itu, “Apakah kamu menyadari bahwa bunga-bunga di sepanjang jalan setapak itu hanya ada pada sisi dimana engkau ada tapi tidak ada di sisi bejana satu lagi? Itu karena aku selalu tahu mengenai cacatmu dan aku ‘mengambil keuntungan’ darinya. Aku menanam benih-benih bunga di sepanjang sisi jalan dimana kamu ada dan setiap hari ketika kita kembali dari sungai, kamu menyirami mereka. Selama 2 tahun aku bisa memetik bunga-bunga indah itu untuk menghiasi meja tuanku.Kalau kamu tidak menjadi sebagaimana kamu ada, tuanku tidak akan pernah menikmati keindahan bunga-bunga itu yang turut menyemarakkan rumahnya.”
Setiap dari kita memiliki ‘kecacatan yang unik’. Kita semua adalah bejana yang retak. Tapi bila kita mau menerima kekurangan kita dan mencari sisi lainnya untuk perbuatan baik, kita bisa ‘menebar atau menanam benih’ di sepanjang jalan kehidupan kita, sehingga kita tidak hanya bisa menikmati keindahan diri sendiri, tetapi juga orang lain.
Jalani hidup ini dengan berani karena kita tahu bahwa Tuhan punya rencana, meskipun di dalam kelemahan kita, Dia sanggup mengubahnya menjadi kekuatan baru. Sebagaimana yang Dia janjikan bagi tiap-tiap orang yang bersandar kepada-Nya. Amin. Semoga renungan ini menjadi berkat buat agan-agan yang merasa hidupnya merasa kekurangan dalam diri masing-masing.
SG with Romi Satria Wahono
05 Oct 2010 1 Comment
in diary, inspire Tags: Romi Satria Wahono
Upzzz… Sudah lewat tengah malam rupanya. Saat ini tanggal 5 Oktober 2010. Ada pengalaman yang mengesankan kemarin pada tanggal 4 Oktober 2010. SG atau Studium General atau lebih akrab ditelinga kita dengan Kuliah Umum. Hmmm…kuliah umum? Apa menariknya? Pasti ya gitu-gitu aja. Eiiitssss…beda dong. Apa ya yang membuat berbeda???
Yup, tentu saja. Pembicara dalam kuliah umum kali inilah yang membuat berbeda. Romi Satria Wahono, seorang pakar IT di bidang software engineering. Lahir di Madiun, 2 Oktober 1974. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di SD Negeri Sompok 4 dan SMP Negeri 8 Semarang. Menamatkan SMA di SMA Taruna Nusantara, Magelang pada tahun 1993. Menempuh pendidikan S1, S2, dan S3 (on-leave) di Department of Computer Science di Saitama University, Jepang pada tahun 1999, 2001, dan 2004. Lebih lengkapnya teman-teman bisa lihat disini.
Dalam tulisan saya ini hanya membahas kuliah umum tadi, tentu tidak akan membahas ilmu beliau karena kalau dibahas tidak habis-habis dan sepertinya saya tidak bakal sanggup menulisnya
.
Tidak terasa, selama kurang lebih tiga jam beliau mengisi seminar di kampus saya tercinta, UIN Sunan Kalijaga. Sungguh berlalu begitu cepat. Bagi saya 4 jempol untuk beliau kalau perlu 20 jari ini semua deh, hehehe… Motivator hebat, retorikanya pun sangat menarik, benar-benar jauh dari kata bosan. Ketika beliau ditanya oleh Matt Mullenweg, founder wordpress. Dengan santai beliau menjawab bahwa retorika beliau menggunakan metode tukulisme, hahaha…ada-ada saja pak Romi.
Ini hal yang mengejutkan bagi saya, mungkin karena baru kali pertama ini mendengar langsung beliau berbicara. Dalam pikiran saya beliau orang yang kaku yang hanya berkutat dengan buku. Eh ternyata punya ternyata, sangat kocak. Saking kocaknya tiga penanya saat di kuliah umum kemarin sukses ‘dijahilin’ beliau.
Sharing ini sangat menarik dan tentu memberi kesan yang mendalam. Tiga pesan yang bisa saya simpulkan yaitu yang pertama terus berusaha untuk belajar dan jangan lupa untuk tetap fokus. Kedua, asah kemampuan berpikir kita untuk dapat menghasilkan ide-ide yang kreatif. Dan yang terakhir, berusaha untuk tetap dijalan yang lurus dalam mencari rejeki karena sesungguhnya rejeki kita telah diatur oleh-Nya.
Seribu kata tak bisa mewakili pengalaman ini. T.O.P. deh pak buat sharing ilmunya, semoga bisa menimba ilmu secara langsung dari lagi dari bapak dilain kesempatan. Amin
Memory in 30 Sept
04 Oct 2010 Leave a Comment
in diary
Pagi ini memory itu tiba-tiba hadir kembali didepanku. Sebuah kenangan yang mungkin tak akan pernah terlupakan. Hari itu Senin, 27 September 2004 di istirahat kedua, tiba-tiba saja kamu berlari memasuki ruangan dan terlihat sangat panik. Mencari tempat untuk bersembunyi. Kami yang sedang berada dalam kelas sangat bingung melihat tingkah anehmu. Lalu kamu memutuskan untuk berlari keluar dan selang berapa detik kemudian segorombolan orang itu mengejar dan memanggilmu dengan kasar bahkan diantara dari mereka ada yang mengambil balok di bangunan yang sedang dibangun itu. Semuanya berlalu sangat cepat. Badan ini hanya bisa terpaku, berdiri di depan pintu kelas kami. Semua kejadian itu berlangsung sangat cepat dan terjadi begitu saja. Badanku bergetar dan saat itu kekhawatiran sangat besar menyeruak. Semoga kamu baik-baik saja. Semoga kamu bisa berlindung di tempat yang aman dari mereka. Beberapa teman pun tiba-tiba menangis, yah hanya menangis dan terdiam karena tidak tahu harus berbuat apa.
Dua hari berselang. Dan ada kabar tidak menyenangkan yang kami dengar. Tak lama kami semua apel pagi dan ada begitu banyak polisi. Sebagian dari kami mengira ada ancaman bom seperti waktu yang lalu tapi diluar dugaan, kami sangat terkejut mendengar bahwa kamu sekarang sedang berjuang di UGD. Panik! Ya, tentu saja. Kami semua was-was dan ibu wali kelas kami mengajak untuk berdoa bersama. Tapi Allah berkehendak lain. Dia lebih menyayangimu.
Selamat jalan kawan… Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Enam tahun terlewati begitu saja. Maafkan jika sebagian dari kami dan khususnya saya tak bisa mengunjungimu tapi doa kami menyertaimu. Kenangan tentangmu tak akan lekang oleh waktu.
*nb: tulisan ini saya buat pada tanggal 30 September 2010, tepat 6 tahun setelah kejadian itu








the respon...